Berubah #1

Change!

Berubah.

Apa yang kamu pikirkan jika mendengar kata itu? Sulit? Aneh? Evolusi? Digivolve? Oke ini nggak nyambung

Keinginan untuk berubah, sangat memenuhi isi kepala saya waktu itu, saat SMA. Saya dihadapkan kepada 2 pilihan berat, fokus bermain game online yang prospeknya cukup menjanjikan atau kembali seperti siswa SMA biasa, fokus belajar.

Dulu, dalam sehari, kira-kira minimal 5 jam saya habiskan untuk bermain game online, kegiatan saya bermacam-macam, mulai dari mencari barang langka, in-game money making, bertarung lawan orang lain di PvP (Player versus Player), sampai chatting. Bagi saya, hari-hari itu terasa sangat menyenangkan, teman-teman di game sangat memperlakukan saya dengan baik, begitu menganggap saya sebagai bagian dari mereka. Saya benar-benar merasa nyaman di ‘dunia lain’ itu, bahkan saya merasa lebih nyaman di sana ketimbang di dunia nyata.

Suatu hari, teman-teman mengajak saya untuk mengikuti kompetisi game nasional dari game yang paling sering saya mainkan. Saya sangat bersemangat mengikutinya, jika menang, kami dapat bertanding dengan tim, dan pemain-pemain terbaik di dunia. Dalam pikiran saya, menjadi juara dunia di game online adalah hal yang keren, sangat keren.

Frekuensi bermain saya meningkat, sampai lupa makan, belajar, bahkan shalat pun saya lakukan di injury time. Setiap hari sepulang sekolah, saya langsung ganti baju untuk bermain game sampai larut malam, di pikiran saya pada saat itu hanya ada game saja, latihan, menyinkronkan kombinasi gerakan tim, menonton video pertandingan juara tahun-tahun sebelumnya, memikirkan berbagai strategi, semua hal dilakukan agar dapat menjadi juara. Ya, main game online tidak sesimpel yang kamu bayangkan, sama seperti halnya belajar, olahraga, menulis, atau musik, main game pun harus dilakukan terus menerus supaya makin terlatih dan terbiasa. Sampai hari pertandingan, kami (saya dan tim) terus berlatih dan berlatih.

Tiba saatnya hari pertandingan pertama berlangsung, pertandingan pertama dimenangkan tim kami tanpa kesulitan berarti, pertandingan kedua pun begitu, sampai ke babak perempat final, kami bertemu dengan tim favorit juara, juara tahun lalu.

Pertandingan tim kami dan tim favorit berlangsung dengan sangat seru, mungkin saat itu adalah saat yang paling tegang dalam hidup. Sampai babak terakhir, tim saya dengan susah payah dapat memenangkan pertandingan, bagaikan Manchester United yang dengan dramatisnya menang melawan Bayern Muenchen saat Final UCL 1999. Waktu itu, saya sangat bahagia.

Saat semi final, saya cukup optimis untuk menang, karena kemenangan sebelumnya melawan tim favorit, namun takdir berkata lain, tim kami kalah. Saya cukup down saat itu, hingga suatu hari ayah memanggil saya untuk bicara. Ayah jarang memanggil saya untuk berbicara, karena itu saya tahu pasti, ayah ingin bicara serius.

Ayah menasihati saya untuk berhenti bermain game online, ya, berhenti. Berhenti dari hal favorit saya, meninggalkan dunia impian yang bahkan lebih saya cintai dari dunia nyata, hal yang (hanya) dapat saya banggakan, dan yang terpenting, teman-teman terbaik yang saya miliki.

“Bang, ayah dan mamah sama sekali nggak bangga sekalipun abang jadi juara dunia di game online.”. Kalimat ini adalah yang paling saya ingat dari pembicaraan dengan ayah waktu itu. Kalimat yang (menurut saya) menohok ini, adalah sebab utama saya berhenti dari dunia game online.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s