(Breaking the) Limit

Limit. Selesai nonton Kyoukai no Kanata (Beyond the Boundary), saya jadi kepikiran nulis tentang ini.

Waktu SMA, limit (fungsi) adalah salah satu bahasan matematika favorit saya, karena soal yang diberikan biasanya cukup simpel —walaupun konsep limit sendiri jauh lebih sulit dipahami dibanding menyelesaikan soal-soal limit SMA. Dengan menerapkan dalil L’Hospital (biasanya) sekali, atau dua kali, atau maksimal tiga kali. kita akan mendapatkan solusi dari limit fungsi yang diminta.

Namun, bukan limit seperti itu yang ingin saya bahas sekarang.

Manusia memiiki batas hampir dalam segala aspek kehidupannya, kecerdasan, emosi, uang yang dihabiskan per bulan, sampai kehidupan —yang berarti kematian. Namun, semua limit tersebut dapat di-extend, kecerdasan dengan belajar, emosi dengan pengendalian, uang dengan sumber penghasilan lain, serta kehidupan, dengan membiasakan pola hidup sehat.

Sedikit curhat. Selama hidup, saya sering men-limit-i diri saya sendiri dalam berbagai hal. Saya sering berbicara dalam hati: “Ah, Den, lu kan nggak pernah ngomong di depan, pasti cengok nanti.”, atau: “Wah lu pasti nggak bisa ngerjain soal ini, Den. ‘kan belum belajar yang itu.”. Karena terbiasa seperti itu, saya jadi jarang sekali untuk mencoba hal-hal baru yang sebelumnya asing bagi saya.

Kalau di Final Fantasy VII, ada limit break, move/skill terkuat dalam game. Cloud dan kawan-kawannya menggunakan (hampir) seluruh kemampuannya untuk mengeluarkan move tersebut. Mungkin di dunia nyata juga ada limit break, tentu bukan dalam bentuk Omnislash-nya Cloud, Catastrophe-nya Barret, atau Cosmo Memory-nya Red XIII.

Alhamdulillah, ternyata dalam kehidupan saya, terutama sekarang, banyak hal yang memaksa saya untuk memberanikan diri menembus limit-limit dari diri saya —yang (mungkin) sebenarnya tidak ada. Mulai dari menjadi MC, memimpin sebuah program kerja, sampai ‘dipaksa’ jualan setiap hari. Hal-hal yang mungkin biasa bagi orang lain, adalah hal yang sangat baru bagi saya, ternyata, hal-hal itu tidak seburuk dan seseram yang saya bayangkan. Tentu, awalnya otak saya membuat image limit imajiner yang begitu tinggi sehingga rasa takut memenuhi kepala saya, dan tidak jarang juga saya kewalahan karena memang minim pengalaman di hal-hal baru yang saya coba. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan latihan, pengulangan, mendengarkan kritik dan saran orang lain, serta meniru bagaimana orang lain melakukan sesuatu. Perlahan limit itu mulai rapuh, dan pasti suatu saat akan hancur, limit break, deh.

“The sky used to be the limit, the new limit is now heaven.”

—King Rankwalla

Yuk sama-sama hancurkan limit (imajiner) kita :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s