Teruntuk sahabat saya, Rian Fitriansyah

“Teman sejati itu tidak peduli kita ini anak siapa, dari keluarga apa, tidak peduli kita ini kaya atau miskin, pintar atau bodoh. Dan yang lebih penting lagi, tidak peduli kita ini lagi susah atau sedang menang undian sabun colek berhadiah 10 milyar. Teman sejati tidak peduli itu semua.

Yang dia peduli, teman sejati selalu ada, selalu menemani, selalu menasehati, selalu mengingatkan kebaikan, mengajak meninggalkan hal-hal buruk dan sia-sia, dan bersama-sama terus memperbaiki diri.”

Tere Liye

Rian adalah orang yang selalu kelihatan (sangat) sibuk, selalu semangat, (sedikit) energik, baik, sholeh, dan -kemungkinan besar- adalah orang yang paling sering saya ledekin dibanding seluruh manusia di dunia ini–bahkan mungkin jika ledekan yang pernah saya lontarkan ke seluruh teman-teman saya (setelah dikurangi Rian) dijumlahkan dan dikalikan dengan dua, masih lebih banyak ledekan saya yang ditujukan untuk Rian. Maaf ya, Yan. 😛

Rian adalah orang yang baik, sangat baik. Dia bahkan punya akun twitter yang mengakui kebaikannya, @BersamaRian. Rian juga paling nggak nyaman kalau melihat orang lain berada dalam kesulitan, dia pasti akan berusaha menolong, minimal dengan berdoa.

Rian adalah anak Fasilkom UI 2012 yang paling pertama berkenalan dengan saya, bahkan mengajak saya bersalaman dan mengenalkan dirinya lebih dahulu. Itu terjadi saat acara Orientasi Kehidupan Kampus (OKK), semacam acara pengenalan untuk mahasiswa baru. Yang aneh, entah kenapa saat saya menjabat tangan Rian, timbul perasaan aneh di hati saya, seperti ada kontak batin. Mengesampingkan perasaan aneh itu, saya senang karena sejak waktu itu akhirnya saya punya kenalan baru, setelah berjam-jam mengikuti acara saya belum mendapatkan teman baru seorangpun, terlebih, Rian anak Fasilkom.

Di awal masa kuliah, saya jarang berinteraksi dengan Rian yang sudah mulai sibuk, berbeda sekali jika dibandingkan dengan saya yang masih imut-imut polos dan malas untuk sibuk. Rian juga ikut berbagai macam kegiatan di kampus, seperti Sekolah BEM Fasilkom (SBF), SALAM Muda (Salman), dan berbagai macam kegiatan produktif lainnya. Sementara saya lebih banyak menghabiskan waktu luang di Lab Fasilkom untuk browsing, sedikit-sedikit buka AoPS, dan download berbagai macam anime.

Saya mulai akrab dengan Rian setelah saya memutuskan untuk mengikuti suatu organisasi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan FUKI. Alhasil, karena Rian juga ikut FUKI–bahkan dia udah diledekin untuk jadi ketua FUKI dari awal, saya dan Rian sering sekali bertemu karena kegiatan atau agenda kami yang banyak beririsan di FUKI.

Mulai semester 2 ke atas, saya dan Rian makin akrab, kami makin sering nginep bareng, melakukan berbagai kegiatan bersama seperti belajar, ngerjain tugas bareng, diskusi (kadang produktif, kadang tidak), main playstation, kadang cuma sekedar numpang tidur, tidak melakukan apa-apa.

Saya dan Rian juga sering berkompetisi satu sama lain dalam berbagai hal. Kita rival, inginnya sih seperti Naruto dan Sasuke, tapi nggak mau sampai ada yang berusaha mendatangi ninja terkuat untuk mendapatkan kekuatan hebat, atau bertarung sampai hampir meninggal. XD

Rivalitas kita sangat beragam, dari yang nggak jelas, sampai yang lumayan jelas pun ada, mulai dari banyak-banyakan menang di game fighting, balap-balapan masuk kelas, cepet-cepetan ngerjain PR, banyak-banyakan membaca Alquran, dulu-duluan mencari dana untuk suatu acara, gede-gedean nilai ujian, dan di pertarungan yang mungkin paling prestise bagi kami, berkompetisi sebagai calon ketua FUKI.

Yah, tapi, jika dibandingkan dengan Rian, bagaikan kuman yang kehilangan arah, saya jauh lebih kecil, cupu, dan kebingungan, lebih lemah dibandingkan dengan debu-debu yang beterbangan. Saya nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Rian, yang jarang sekali menampakkan kesedihan dalam kesulitan-kesulitan yang dialaminya–meskipun saya tau, beban kehidupannya lebih berat dari kebanyakan orang yang saya kenal.

Barakallah fi umrik, Yan! Semoga senantiasa dimudahkan dan dikuatkan dalam berbagai asam manis kehidupan oleh-Nya, selalu menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitar, menjadi hamba-Nya yang dapat memberi manfaat bagi seluruh makhluk di alam semesta ini, serta menjadi insan yang dapat membanggakan orang tua, adik, keluarga, dan seluruh teman-teman lu.

Terakhir, selamat berkontemplasi di hari ulang tahun lu ini, Yan. Semoga kita bisa selalu ber-fastabiqul khairat dan mengurangi berlomba-lomba dalam hal-hal yang kurang produktif, ya! 😀

Rian

Catatan:

1. Entah kenapa kalau berbicara/chatting/berinteraksi dengan Rian, saya merasa tidak biasa menggunakan ‘saya-kamu’ atau ‘ane-ente’. Saya (dan kayaknya Rian) akan lebih nyaman kalau memakai ‘gua-lu’. Makanya, kalimat-kalimat dalam tulisan ini yang ditujukan ke Rian pakai ‘lu’. 😀

2. Saya bikin tulisan ini di sela-sela waktu ngerjain tugas Basis Data, karena itu, mungkin konten dan diksinya saya perbaiki lagi nanti. :”)

Advertisements

One thought on “Teruntuk sahabat saya, Rian Fitriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s