Malam

Bulan

Sekali lagi di kehampaan malam ini, aku duduk di halaman depan, menyapa Langit. Hei Langit! Kamu tetap saja hitam, namun kamu begitu menarik perhatianku, aku seringkali lupa waktu ketika bersamamu, detik-detik berdua denganmu selalu membuatku lupa akan banyak hal. Sejujurnya, aku tidak pernah sekalipun dikecewakan oleh keindahanmu. Lagi, kamu menarik perhatianku malam ini. Tapi, selalu ada yang kurang ketika aku sempatkan meluangkan waktu untuk bercengkrama denganmu, hei Langit.

Entah apa yang Bintang pikirkan, ia dan teman-temannya selalu menghilang di saat aku ingin bertemu dengan mereka, selalu saja begitu. Padahal aku hanya ingin sekedar menyapa. Hei Bintang, tak bisakah sekalipun kau menampakkan dirimu di saat aku ingin bertemu denganmu? Langit, bisakah kau panggilkan Bintang untukku?

Ah, setidaknya, ada Bulan yang berjanji setia untuk menemaniku di setiap gelapnya malam. Bulan selalu sukses membuatku (sedikit) lebih bahagia. Tetapi, aku dan Bulan, hanya dapat saling menatap paru dari spasi yang tak bisa terukur di antara kami. Aku selalu penasaran dengan apa yang Bulan pikirkan ketika ia melihatku. Hei Bulan, aku ingin tau hal-hal apa saja yang kau pikirkan, bisakah kau memberitahuku sedikit saja?

Langit, bisakah kamu sampaikan pesanku ke Bulan dan Bintang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s