Untukmu

JendelaAku tau, kau pasti sedang lelah. Ya, itu kau, bukan dia. Besok kau harus mengikuti UAS, acara yang harus kau inisiasi persiapannya belum matang, berbagai tugas akademismu belum selesai, amanah-amanah dakwah menumpuk, tilawahmu belum sampai satu juz. Besok kau harus memimpin syuro (rapat) lagi, tentu saja di pagi-pagi buta, sebelum seluruh penduduk dunia memulai segala aktivitasnya. Lengkap sudah kepenatanmu hari ini, bukan?

Dulu, apa-apa tinggal bilang ke orang tua. Kalau lapar, kalau tidak mengerti tugas yang diberikan, kalau dijahili oleh teman yang bandel, kalau ingin beli mainan, dan kalau-kalau apapun. Rasanya orang tuamu dapat melakukan segala upaya terbaik untuk membahagiakanmu.

Ah, dulu hidupmu -dan hidupku- begitu simpel. Semuanya begitu indah.

Sekarang, kau mungkin sudah terbiasa berjuang sendiri. Kau tau orang tuamu tidak bisa selalu ada bersamamu. Kau harus berdiri tegak sendiri dengan kakimu. Bahkan terkadang, kau terpaksa berdiri tanpa siapapun di sampingmu. Orang-orang yang selalu memberikan dukungannya kepadamu, terkadang tidak ada untukmu.

Mengapa tuntutan hidupmu begitu banyak? Sementara orang lain -yang mungkin beruntung- di luar sana bisa fokus dengan satu hal saja–yang menjadi kegemaran mereka. Rasanya, tidak ada sedikit pun waktu yang dapat kau gunakan untuk berleha-leha. Bahkan, waktu sekedar meluruskan kaki, melepas penat dan pegal pun tidak ada, apalagi waktu untuk bersantai-santai sambil menonton acara televisi favoritmu seperti dulu.

Semua itu, karena, karena kau dan aku, karena kita… Karena kita adalah qiyadah. Karena kita adalah qiyadah. Karena kau dan aku, adalah pengemban dakwah. Karena kita, adalah orang-orang terpilih yang dipilih dengan pertimbangan terbaik oleh-Nya untuk mengemban amanah langit ini. Dan mungkin, itulah sebabnya kau yang beruntung, bukan dia.

Kau dan aku mungkin sudah terbiasa tidak (atau enggan) mendapat balasan langsung secara nyata. Balasan materi yang bisa kau banggakan kepada orang lain, ataupun bahkan, hanya sekedar balasan ucapan terima kasih. Tetapi, ada hal indah yang ada di balik hilangnya balasan itu, keridhaan-Nya yang akan senantiasa menyertaimu.

Setiap detik yang kau maksimalkan demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini adalah ongkos untuk mendapatkan tiket masuk ke tempat teristimewa yang disiapkan oleh-Nya. Tempat terbaik di seluruh alam semesta ini. Balasan terbaik dari-Nya yang pernah kita semua ketahui. Dan karena itu, kita harus meluruskan niat karena-Nya. Hanya untuk kemenangan dakwah ini, hanya untuk-Nya.

“(Allah-lah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya.”

-Q.S. Al-Mulk: 2

Advertisements

4 thoughts on “Untukmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s