Tafsir Al-Mukminun 1-11

5cm

Mukminun – asal katanya dari mukmin – berarti orang-orang yang benar-benar beriman, the true believers.

Surat Al-Mukminun adalah surat yang membahas tentang orang-orang yang beriman, lebih lanjut, ini adalah surat tentang keimanan, dengan berbagai aspek-aspek keimanan yang dibahas secara komprehensif dalam surat ini.

Allah menggunakan kata ‘mukminun‘ pada surat ini untuk memanggil orang-orang yang beriman, bukan ‘ayyuhal-lazina amanu‘ seperti pada ayat atau surat lainnya. Kata ‘mukminun‘ adalah panggilan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam ‘the true believers‘, atau orang-orang yang benar-benar beriman. Sedangkan panggilan ‘ayyuhal-lazina amanu‘ adalah panggilan bagi ‘the believers‘, orang-orang yang baru beriman, atau orang-orang beriman biasa.


Menurut Sayyid Qutb, surat Al-Mukminun dibagi atas empat episode. Kita akan fokus hanya pada episode pertamanya; ayat satu sampai sebelas. Al-Mukminun 1-11 berisi tentang janji Allah bagi orang-orang yang beriman beserta tanda-tanda dan sifat-sifat yang dimilikinya.

Dimulai dari ayat pertama surat Al-Mukminun;

“Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman.”
-Al-Mukminun: 1

Allah mengawali surat Al-Mukminun dengan kata ‘qad‘ yang berarti sesungguhnya. Ayat ini adalah sebuah penegasan bahwa kemenangan orang-orang mukmin di muka bumi adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi. Hal itu adalah janji Allah, dan Allah, sudah pasti tidak akan pernah mengingkari janjinya.

Keberuntungan yang didapat oleh orang-orang mukmin adalah keberuntungan di dunia dan akhirat. Orang-orang yang beriman akan mendapat berbagai kemudahan – baik dalam hati, harta benda, maupun kegiatan – dan sarana-sarana terbaik yang Allah siapkan untuk menjalani berbagai lika-liku kehidupan yang akan ia akan hadapi di muka bumi. Di akhirat, orang-orang mukmin akan memeroleh balasan terbaik yang tidak pernah dapat kita bayangkan.

Sudah jelas bahwa kemenangan tersebut tidak akan terwujud secara tiba-tiba. Keniscayaan kejayaan Islam haruslah diupayakan dan dimantapkan dengan upaya-upaya terbaik orang-orang mukmin, sebagai ksatria-ksatria terbaik yang senantiasa akan membela agama-Nya.

Seperti apakah ciri-ciri orang-orang mukmin? Hal ini akan dijelaskan di ayat-ayat setelahnya, tentang tanda-tanda dan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang-orang yang mukmin.

“(Yaitu) Orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
-Al-Mukminun: 2

Shalat merupakan proses transendensi (berpindahnya jiwa) seseorang menuju Allah. Shalat merupakan proses komunikasi terbaik antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mereka yang dapat melaksanakan shalat dengan khusyuk adalah mereka yang dapat merasakan kedahsyatan shalat sehingga hati-hati mereka menjadi tunduk. Dan, kekhusyukan itu akan mengalir ke seluruh anggota tubuh, isyarat, dan gerakan shalat mereka.

Meraih shalat yang khusyuk secara sempurna adalah salah satu hal yang cukup sulit untuk dilaksanakan, bahkan bagi orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi sekalipun. Kekhusyukan dalam shalat sangat berkaitan dengan amalan-amalan yang diperbuat, kondisi psikologis, serta kedekatan kita sebagai hamba Allah kepada-Nya.

Mereka yang khusyuk dalam shalatnya, adalah mereka yang dapat merasakan keagungan Allah beserta segala ciptaan-Nya yang senantiasa menyertai hidup mereka. Adalah mereka yang sadar bahwa tidak ada tempat kembali selain kepada-Nya. Adalah mereka yang paham bahwa manusia adalah sumber kenistaan, yang tidak pernah bisa lepas dari dosa-dosa.

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”
-Al-Mukminun: 3

Allah sangat memuliakan waktu, bahkan dalam Al-Qur’an, banyak surat yang membahas tentang waktu seperti surat Al-Asr, Al-Lail dan Ad-Dhuha. Cara kita untuk memuliakan waktu adalah memaksimalkannya dengan kegiatan-kegiatan yang berguna bagi dirinya sendiri dan seluruh entitas yang ada di sekitar kita.

Karena itu, mengupayakan mengisi waktu dengan segala hal yang bermanfaat adalah sebuah keharusan yang harus senantiasa dilakukan. Sejatinya, tanggung jawab kita sebagai seorang muslim – dan manusia – di muka bumi ini telah banyak sekali. Sehingga, waktu yang kita miliki sebenarnya amat sangat tidak cukup untuk melaksanakan seluruh tanggung jawab yang kita harus kerjakan.

Hal-hal yang tidak berguna (laghwi) termasuk di dalamnya perbuatan, perhatian, dan perasaan yang tidak berguna. Seorang muslim sejatinya harus senantiasa konsisten menghindari hal-hal yang sia-sia, dengan mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat; beribadah, belajar, berorganisasi, fastabiqul khairaat, serta berbagai hal lainnya yang dapat mengembangkan potensi dan amalan diri.

Ini bukan berarti seorang muslim sama sekali tidak mempunyai waktu – dan tidak diperbolehkan – untuk menghibur dirinya sendiri. Menghibur diri tidak harus dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Kita dapat mengisi waktu kita dengan berbagai kegiatan produktif untuk menghibur diri kita.

Tekunilah hobi yang dapat bermanfaat bagi dirimu dan dunia ini! šŸ™‚

“Dan orang-orang yang menunaikan zakat.”
-Al-Mukminun: 4

Zakat termasuk dalam rukun Islam. Zakat harus kita tunaikan untuk membantu kita menghadap Allah dan menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna. Pun, zakat dapat menjaga kesucian harta benda yang kita miliki menjadi halal dan baik.

Zakat dapat menjadi asuransi sosial bagi seluruh individu dalam jamaah, jaminan sosial bagi para dhuafa dan orang-orang yang lemah. Zakat dapat menjaga umat Islam dari kehancuran dan ketimpangan, terutama perihal ekonomi.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.”
-Al-Mukminun: 5

Islam adalah agama yang suci, dan Islam sangat menjunjung tinggi kesucian manusia. Menjaga kemaluan dari segala hal yang tidak – atau belum – halal adalah salah satu bentuk ketakwaan kita kepada Allah.

Dengan menjaga kemaluan dari penyimpangan seksual yang tidak halal, menjaga hati dari keinginan yang nikmatnya hanya sekelimat belaka, serta menjaga jamaah dari kebebasan syahwat yang semu, kita akan terjaga dari hal-hal buruk yang dapat terjadi; kebobrokan rumah tangga, kehancuran keturunan, kerusakan nama baik, serta kita dapat terhindar dari azab-Nya yang sangat pedih.

Masyarakat yang dominan kebebasan syahwatnya tanpa bisa dihindari adalah masyarakat yang mungkin kotor dan hina dalam kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an, Allah membatasi tempat-tempat pembuahan yang halal, serta mengarahkan kita seharusnya di mana kita meletakkan benih untuk senantiasa mendapatkan keberkahan-Nya.

“Kecuali terhadap istri-istri mereka, atau budak-budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya dalam hal ini tiada tercela.”
-Al-Mukminun: 6

Jelas bahwa istri adalah halal bagi suami. Namun, di sana dibahas juga kata ‘budak’. Bahwa Islam menghalalkan bercampur dengan budak adalah hal yang sering ‘diserang’ oleh orang-orang yang (mungkin) antipati terhadap Islam. Perlu diperhatikan juga ‘budak’ pada zaman dulu sangat berbeda dengan sistem perbudakan pada zaman sekarang.

Masalah perbudakan pada masa itu sejatinya adalah masalah yang dihadapi oleh seluruh dunia. Islam tidak dapat semerta-merta menghapus sistem perbudakan yang diterapkan saat itu, karena akan mengganggu stabilitas berbagai lini kehidupan masyarakat.

Pada saat itu, tawanan perang suatu negara – yang didapat dari hasil memenangkan perang dari negara lain – akan secara otomatis menjadi budak. Sehingga, ada pula tawanan kaum muslimin yang menjadi budak di tangan musuh-musuh Islam. Islam datang dengan upaya untuk memperbaiki – dengan menghapus – sistem perbudakan secara perlahan.

Pada hakikatnya, masalah perbudakan pada perang merupakan polemik darurat yang temporer. Hal ini sekali-kali bukanlah merupakan bagian dari sistem sosial dalam Islam.

“Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
-Al-Mukminun: 7

Istri-istri dan budak-budak wanita, tidak ada lagi yang halal selain itu. Bagi mereka yang melampaui batas, akan mendapatkan berbagai balasan yang sangat buruk, baik balasan secara sosial maupun agama.

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.”
-Al-Mukminun: 8

Salah satu faktor yang menurunkan kredibilitas masyarakat Islam di mata dunia adalah pandangan mereka, yang menganggap bahwa orang-orang Islam kurang profesional dalam berbagai pekerjaan yang diamanahkan kepadanya–paling tidak ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Sebagai seorang mukmin, sudah sewajarnya kita dapat menjaga performa di segala amanah yang dipercayakan kepada kita. Itu adalah salah satu bentuk ikhtiar terbaik yang dapat kita lakukan untuk menjaga izzah (kemuliaan) agama ini.

Orang-orang yang beriman akan selalu berusaha menjalankan amanah-amanah yang diberikan kepadanya dengan semaksimal mungkin, dengan upaya terbaik yang mereka bisa usahakan. Sehingga, mereka tidak pernah membiarkan fitrah mereka melenceng dari keistiqamahan mereka. Mereka selalu teguh dalam menjalankan amanah yang diembannya.

Kemenangan jamaah akan tercapai jika setiap individu dalam jamaah tersebut senantiasa dapat menjaga amanah dan janjinya sebaik mungkin. Maka, setiap individu akan merasa tenang dan tentram atas dasar ini. Kepentingan untuk memenuhi kepercayaan, keamanan, dan ketenangan.

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.”
-Al-Mukminun: 9

Orang-orang beriman tidak meninggalkan shalatnya karena malas, atau karena meremehkan shalat itu sendiri. Mereka tidak mengerjakannya secara asal-asalan, tidak setengah-setengah, serta tidak sekedar menggugurkan kewajiban saja. Mereka menunaikannya tepat waktu, memerhatikan rukun-rukun serta adab-adab shalat yang ada, dengan hal-hal yang wajib dan sunnah secara lengkap.

Seperti yang sudah dibahas di atas, shalat adalah periode terbaik hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Maka, mereka yang tidak menjaganya sebaik mungkin akan jauh dari Allah. Karenanya, mereka yang tidak menjaga shalatnya, tidak akan bisa diharapkan untuk dapat menjaga hubungan mereka dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

Sesungguhnya, sifat-sifat orang yang beriman adalah diawali dengan shalat, dan diakhiri dengan shalat untuk menunjukkan keagungan martabat dan kedudukannya dalam membina iman. Karena itu, shalat adalah gambaran ibadah yang paling sempurna di antara ibadah-ibadah lain yang ditujukan kepada Allah.

“Mereka itulah orang-orang yang mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”
-Al-Mukminun: 10-11

Surga Firdaus adalah balasan terbaik yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman, golongan mukmin. Bahkan, mereka akan kekal di dalamnya. Surga Firdaus adalah puncak keberuntungan yang Allah berikan untuk golongan mukmin, dan tidak ada target lain yang mungkin – dan bisa – dituju lagi oleh mata dan khayalan orang-orang beriman.

Begitulah kandungan periode pertama surat Al-Mukminun; tentang berbagai ciri-ciri yang dimiliki oleh orang-orang mukmin, orang-orang terbaik yang akan merealisasikan kejayaan Islam di muka bumi ini. Semoga kita semua dapat termasuk ke dalam golonganĀ mukminun ya. šŸ˜€

Sebentar lagi kita akan melalui bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Ramadhan adalah salah satu fasilitas terbaik yang Allah sediakan untuk meningkatkan kapasitas ibadah, pribadi, serta akal kita sebagai seorang mukmin. Harapannya, tulisan ini dapat menjadi pengingat kita di kala Ramadhan untuk menjadi modal dalam berakselerasi secepat mungkin supaya kita dapat meraih titel ‘mukminun’ suatu hari nanti. Tentunya tulisan ini saya buat untuk menjadi pengingat saya pribadi.

Allahu a’lam.


Referensi:

1. “Fii Zilalil Qur’an” – Sayyid Qutb

2. Video Ceramah Nouman Ali Khan: “Tafsir of Surah Al-Mu’minun”

Sumber gambar:

Anime 5cm per second


Denny Yusuf, Koordinator Bidang Internal FUKI Fasilkom UI 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s