Ruang

Dawn

Burung merpati itu masih tersungkur lana, terkurung dalam penjara kaku yang tidak seharusnya ia berada di sana. Hari-harinya selalu saja seperti itu, tetap sendiri merenungi dunia kecilnya. Sayapnya terkulai lemah karena ia senantiasa terluka oleh memori; angkasa baginya dulu adalah panggung tanpa batas untuk bebas menari.

Pikirnya, melihat tidak senikmat merasakan; dia tau pasti akan itu. Namun apa yang ia bisa? Tidak ada. Seringkali ia melihat teman-temannya bergerak bebas menyusuri udara; tanpa ada rasa takut yang membuat jera. Hanya ia yang tak bisa; sangkar ini memupuskan harapannya untuk melangit melewati masa.

Kau dan aku tak akan pernah dapat bergerak tanpa adanya spasi. Aku selalu bersyukur kita terpisahkan oleh ruang–tidak sependapat dengan mereka yang menganggap bahwa ruang diciptakan hanya untuk menseparasi. Ada makna indah di balik keterpisahan. Aku tau kau paham akan hal ini, tapi aku tak mengerti seni–apalagi seni menyembunyikan yang selalu kau peragakan.

Sejatinya kekuatan utama manusia bukanlah dalam bergerak, tapi dalam diam. Dalam diam, kau dapat menyimpan jutaan rahasia walau besarnya seluas benua Asia. Dalam diam, kau dapat mengumpulkan kekuatan sebanyak air yang berada di lautan. Dalam diam, kau dapat memendam–menyembunyikan segalanya.

Apapun itu, jangan berlari terlalu cepat; aku tau kau adalah pelari yang handal, bukan sepertiku yang masih nyaman memakai sendal.


Ilustrasi: Makoto Shinkai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s