Internalisasi: Evolusi!

“Ibu, rasa nyaman selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tau kalau kami sudah terjebak oleh perasaan nyaman itu… Padahal di luar sana, di tengah hujan deras, petir, guntur, janji kehidupan yang lebih baik boleh jadi sedang menanti. Kami justru tetap bertahan di pondok reot dengan atap rumbia yang tampias di mana-mana, merasa nyaman, selalu mencari alasan untuk berkata tidak atas perubahan, selalu berkata ‘tidak’…”

Tere Liye

Sebenarnya, saya adalah orang yang kurang menghargai waktu: terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk istirahat, makan, kerja yang tidak efektif, serta hal-hal yang kurang produktif.

Tapi, saya ingin berubah.

Dan, hidup di PPSDMS, adalah hidup yang mengharuskan saya untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan itu.

Bagi saya, masa internalisasi adalah masa adaptasi; masa di mana saya dan teman-teman dituntut untuk menaati aturan dan mengubah berbagai kebiasaan buruk yang sudah melekat dalam diri kami.

Biarpun masih dalam masa internalisasi, kegiatan PPSDMS benar-benar banyak dan padat, saya yang kurang bisa me-manage waktu harus berusaha lebih keras mengoptimalkannya dibandingkan teman-teman lain yang sudah terbiasa memiliki kegiatan yang lebih banyak daripada saya. Untungnya, saya selalu termotivasi oleh orang-orang di sekitar saya yang selalu mendukung dan memberikan lecutan semangat.

Kegiatan Masa Internalisasi

“Menjadi kuat bukan berarti kamu tau segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi ketika berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.

Dewi Lestari (Dee)

Masa internalisasi terdiri dari kegiatan-kegiatan ini: Qiyamul Lail (QL) dan Waktu Berkah Subuh (WBS), Apel Pagi, Dialog Tokoh (DT), Safari Kemerdekaan, serta puncak dari masa internalisasi, National Leadership Camp (NLC).

QL dan WBS adalah kegiatan shalat malam berjamaah yang dilanjutkan dengan shalat subuh lalu pembacaan Al-Matsurat. Tentu, mengharuskan peserta untuk bangun pagi dan menahan kantuk. Masalahnya, saya adalah orang yang kurang terbiasa untuk bangun pagi dan jarang membaca Al-Matsurat, apalagi di pagi-pagi buta. Bangun telat adalah salah satu hal tersulit yang harus saya ubah, hal ini sudah menjadi kebiasaan buruk. Pada saat QL, karena setiap peserta secara bergiliran menjadi imam, banyak dari teman-teman yang melantunkan bacaan Al-Qur’an-nya dengan indah. Bahkan, saya sangat sering mendengarkan surat yang baru pertama kali saya dengar; kebanyakan bacaan mereka menyentuh hati, sekaligus membuat saya minder karena hafalan saya tidak sebanyak mereka. Yang tidak kalah menarik—dan lucu—adalah melihat teman-teman yang menahan kantuk dengan penuh perjuangan, hal ini sangat menghibur walaupun saya juga cukup sering dibangunkan oleh teman karena tertidur saat WBS. Saat WBS, ada juga kegiatan kultum dan pembacaan kitab riyadush shalihin, banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kegiatan QL dan WBS.

Apel Pagi mengajarkan saya kedisiplinan, perfeksi, dan keberanian. Saya senang ketika saya sampai di lapangan lebih cepat daripada teman-teman lain apalagi jika mendahului Tiara. Badan saya pun menjadi lebih tegap, karena saat apel, kami dituntut untuk selalu berdiri tegap, sekarang rasanya postur badan saya terasa lebih mendingan. Hukuman yang diberikan—karena kami melakukan kesalahan—saya kerjakan dengan perasaan senang karena kami menjalaninya bersama-sama. Bahkan, hampir setiap sarapan amanat yang diberikan para pembina apel menjadi pengisi semangat saya setiap pagi untuk menjalani hari.

Dialog Tokoh adalah kegiatan inspiratif lainnya. Tokoh-tokoh bangsa yang berpengaruh diundang untuk menjadi pembicara di acara ini; seperti Mas J.J. Rizal dan Pak Sutan. Saya kagum dengan orang-orang seperti mereka, yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan biasa dengan jawaban yang tidak biasa, pola pikirnya berbeda dengan orang lain.

Di Safari Kemerdekaan, ada upacara bendera dan acara yang betul-betul ‘safar-i’. Kala itu, saya ditugaskan untuk menjadi pengerek bendera merah putih. Sejak lahir, saya baru sekali menjadi pasukan pengibar bendera, saya takut sekali dengan kegagalan saat pengibaran, mengecewakan seluruh peserta upacara karena kesalahan saya. Tetapi, saya memberanikan diri untuk menerima tantangan itu, karena bimbingan teman-teman dan pengibar yang ternyata anak Paskibraka, untungnya kami dapat melewatinya dengan hasil yang cukup memuaskan. Setelahnya, kami diajak untuk berkeliling di daerah Jakarta secara berkelompok, dan hal ini sangat menyenangkan! Saya sangat menyenangi berjalan jauh, apalagi jika bersama-sama dengan orang lain yang bersemangat. Kami mengunjungi beberapa tempat: Taman Makan Pahlawan, Kota Tua, serta Tugu Soekarno. Di ketiga tempat tersebut, kami ditugaskan untuk merefleksikan perjuangan para pahlawan dengan berbagai mini-games. Rasanya, energi para pahlawan terdahulu cukup tersalurkan ke dalam diri saya di kegiatan ini.

Mereka, Cahaya Untuk Saya

“Tidak sulit menemukan inspirasi di PPSDMS, segala kegiatannya memiliki makna. Bahkan, jika kamu sedang tidak bersemangat, datangi saja kamar temanmu, pasti semangatmu akan terisi kembali.”

Yang sangat saya syukuri ketika bisa menjadi bagian dari keluarga PPSDMS adalah dapat dipertemukan, dan bahkan tinggal bersama dengan orang-orang yang sangat inspiratif. Mulai dari Bang Arief, para supervisor, serta para teman-teman seperjuangan: Ksatria maupun Tiara. Bagi saya, mereka semua adalah cahaya; cahaya yang selalu menjadi asupan energi, yang menjadi alasan untuk terus bergerak dan berusaha lebih.

Ada sebuah frase yang menurut saya sangat tepat untuk menggambarkan sosok seorang Dr. Arief Munandar: kasih sayang. Terlalu banyak pelajaran yang bisa diambil dari Bang Arief yang cerdas, ikhlas, inspiratif, dan… atletis. Dalam pandangan saya, Bang Arief adalah seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang di sekitarnya: keluarga, PPSDMS, rekan kerja, bahkan orang-orang lain yang (mungkin) baru ia kenal. Bagi saya, Bang Arief adalah orang yang menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Setiap omongan dan perlakuan Bang Arief adalah inspirasi—walaupun seringkali saya harus berpikir sejenak terlebih dulu untuk menemukan esensinya—, ia adalah role model yang sangat baik bagi orang-orang di sekitarnya. Saya selalu kagum ketika Bang Arief berbicara. Suatu hari, saya berkeinginan untuk bisa menjadi manusia seperti Bang Arief, seseorang yang penuh dengan rasa kasih sayang.

Yasir Arafat adalah seorang supervisor yang tegas, baik, dan rendah hati. Saya pribadi sangat menghormati Bang Yasir. Yang paling saya sukai dari Bang Yasir adalah ia sangat murah senyum kayaknya para akhwat akan langsung pada kesengsem kalau disenyumin Bang Yasir. Sejujurnya, sebelum mengenali Bang Yasir di asrama, saya sangat segan terhadap Bang Yasir karena saya selalu menganggapnya sebagai ‘dewa’. Bagaimana tidak, Bang Yasir adalah Ketua Majelis Syuro SALAM UI; orang yang menentukan kebijakan-kebijakan strategis dakwah, 2 periode pula. Pikir saya, Bang Yasir adalah Superman yang dapat melakukan segala hal; bahkan setau saya, hampir semua aktivis segan dengan Bang Yasir. Tetapi, di balik itu semua, Bang Yasir adalah seorang manusia biasa, ia seringkali terkena penyakit, mungkin karena aktivitas yang ia jalani begitu berat, selalu jaga kesehatan ya Bang! Cari pendamping, Bang.

Barlian Juliantoro adalah sosok keren lainnya. Kisah hidupnya sangat inspiratif, orang lain mungkin akan menangis jika diceritakan tentangnya. Bang Toro bagi saya adalah seorang abang yang lucu dan friendly, hal ini yang membuat saya—dan teman-teman lain—merasa nyaman ketika berada dekat Bang Toro. Jokes yang dilanturkan Bang Toro sangat natural, sangat tidak dibuat-buat sendiri. Bang Toro termasuk orang yang jenius dalam melawak ditambah lagi dengan tampangnya yang mendukung. Ia juga adalah seorang aktivis yang banyak sekali kegiatannya; yang saya tau, kontribusinya untuk dakwah kampus sudah sangat banyak, meskipun banyak orang yang tidak tau akan hal itu; terlebih ia juga jarang membicarakannya. Dan, Bang Toro adalah orang yang baik dan care, khususnya terhadap saya dan teman-teman asrama. Saya yakin, ia akan membela kami, adik-adiknya, di barisan paling depan ketika kami berada dalam kesulitan.

Lalu teman-teman kamar, kamar tempat saya biasa tidur: kamar 3 Soekarno. Kamar ini berisi orang-orang yang seru. Ada Jati si taakhi saya yang juga seorang orator ulung, Ma’il si syaikh yang suka menganalisis, Mujab sang calon ketua BEM FISIP MC kawakan, Haykal yang ramah dan suka baca manga seperti saya, serta Giffari yang baik dan berwawasan luas. Saya rasa, kami adalah kombinasi yang unik karena setiap individu dari kami benar-benar berbeda dan berasal dari latar belakang yang berbeda pula.

Last but not least, di asrama ini, selalu ada teman-teman yang selalu memberikan semangat serta inspirasi kapanpun dan di manapun mereka berada. Sangat mudah mencari inspirasi di asrama sini, seperti quote yang dituliskan di atas.

Teruntuk cahaya yang paling terang: Ksatria dan Tiara, terima kasih atas segala inspirasinya. Suatu saat saya akan buat tulisan khusus tentang kita, saya rasa terlalu panjang jika diungkapkan di sini. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s