Yang Lebih Utama: Fardhu atas Sunnah

Mendahulukan yang Fardhu atas yang Sunnah

Ada perkara yang diperintahkan dalam bentuk sunnah, ada perkara yang diperintahkan dalam bentuk fardhu, ada juga perkara yang berada di antara keduanya, yang disebut oleh para fuqaha (ahli fiqih) dengan sebutan ‘wajib’.

Fardhu terbagi dua: fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu kifayah adalah suatu fardhu yang ketika ada satu – atau banyak – orang yang sudah melaksanakannya, maka orang lain tidak berdosa bila tidak melakukannya. Fardhu ‘ain adalah fardhu yang wajib dikerjakan oleh setiap orang yang telah memenuhi syarat untuk melaksanakannya.

Sebenarnya, antara fardhu dan wajib adalah masalah khilafiyah, ada perdebatan di antara para ulama apakah wajib dan fardhu adalah sama atau tidak. Ada ulama yang berkata bahwa perkara yang termasuk fardhu adalah sesuatu yang ditetapkan dengan dalil yang qath’i – jelas, tidak menimbulkan banyak interpretasi – sedangkan perkara yang termasuk wajib tidak. Ada juga yang berpendapat bahwa fardhu adalah yang terdapat dalam Al-Qur’an, sedangkan wajib ditetapkan dari sunnah Rasulullah.

Kesalahan Menyibukkan Diri dalam Perkara Sunnah dengan Meninggalkan Perkara Fardhu

Seringkali, umat ini mendahulukan hal-hal yang sunnah atau mustahab (disarankan) terhadap hal-hal yang sifatnya wajib. Dan, sebenarnya itu adalah sebuah kesalahan. Contohnya shalat/puasa (sunnah), dan haji lebih didahulukan daripada hal-hal yang secara prioritas lebih wajib untuk dipenuhi.

Terkadang, pemeluk agama ini melakukan qiyamul lail, lalu ia bekerja di masyarakat dengan keadaan lemas, tidak memiliki kekuatan sehingga tidak maksimal dalam mengerjakan amanah yang ia emban. Berdasarkan hadits ini: “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan terhadap segala sesuatu”; bekerja semaksimal mungkin hukumnya adalah wajib, dan mengabaikannya berarti penghianatan terhadap amanah yang diberikan kepadanya. Sesungguhnya qiyamul lail adalah sunnah, tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu, lakukan pada porsinya, secara tidak berlebihan dan jangan sampai menurunkan performa setelah kita bertebaran di muka bumi untuk berkontribusi kepada umat manusia.

Lainnya, puasa Senin-Kamis. Ketika berpuasa mengakibatkan bekerja dengan kondisi yang loyo dan tidak bergairah, kita akan menyusahkan banyak orang karena mendahulukan puasa. Padahal, mendahulukan kemaslahatan orang banyak merupakan suatu kewajiban atas diri kita. Termasuk bagi seorang istri, Rasulullah tidak mengizinkan seorang istri untuk berpuasa sunnah ketika ia berada di rumah, kecuali atas izin suaminya; karena sesungguhnya, suami memiliki hak atas dirinya yang lebih utama untuk dipenuhi dibandingkan puasa sunnah.

Lalu, banyak sekali bagian dari umat ini – semoga mereka cepat disadarkan – yang melakukan ibadah haji untuk kesekian kalinya. Mereka menghabiskan biaya yang sangat besar; padahal di sisi lain, banyak bagian lain dari kaum Muslimin yang meninggal dunia karena kelaparan, atau bahkan tidak mempunyai tempat tinggal karena perang. Contohnya seperti masyarakat Palestina, Suriah, atau Mesir, mereka semua sedang berjuang keras untuk bertahan hidup dari perilaku keji penjajah atau pemimpin mereka. Sementara itu, 70% jamaah haji setiap tahun adalah orang yang pernah melakukan ibadah haji sebelumnya – mereka hanya melakukan ibadah haji sunnah – yang ratusan juta rupiahnya dihabiskan hanya untuk keperluan pribadi, padahal banyak kaum muslimin yang sangat membutuhkan bantuan, seharusnya kita adalah orang-orang yang paling cepat membantu sebagai saudara seiman yang diikat oleh tali terkuat yang pernah Allah ciptakan: ukhuwah islamiyah.

Jika mereka melihat dari cakrawala yang lebih luas, dan mengetahui lebih tentang fiqih prioritas, mereka akan mendahulukan penyelamatan saudara-saudara muslim mereka dibandingkan dengan kenikmatan ruhani ketika mereka haji atau umrah. Sejatinya mereka akan menemukan kebahagiaan yang lebih dahsyat jika dibandingkan dengan melakukan ibadah sunnah yang mungkin – sadar atau tidak – disertai dengan riya’.


Dirangkum dari buku Yusuf Qardhawi: Fiqh Prioritas hal. 151-158

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s