Pelajaran dari (Seekor) Ibu (Kucing)

Kucing Lagi
Ilustrasi Ibu Kucing dan Anak-anaknya

Sejak beberapa hari lalu, di bawah rak yang berada di depan ruang BEM, tinggal seekor kucing betina – selanjutnya disebut Ibu Kucing – yang ternyata telah melahirkan 5 ekor anak kucing. Walau di Fasilkom UI banyak kucing-kucing yang berkeliaran; baru kali ini saya melihat kucing yang melahirkan.

Lebih lanjut, Ibu Kucing adalah seorang single parent; entah ke mana ayah yang seharusnya ikut mengurusi anak-anak kucing tersebut pergi. Setiap hari sejak melahirkan, Ibu Kucing – dan mungkin para induk kucing lain – menjalani hidup yang cukup keras. Dari pengamatan sekilas yang saya lihat, hidup Ibu Kucing hanya terbagi ke dalam 3 fase: mengurusi anak kucing, istirahat, dan mencari makan.

Saat baru dilahirkan ke muka bumi, seekor kucing buta dan tuli; itu sebabnya anak-anak kucing masih belum dapat mencari makan sendiri, dan hanya mendapatkan asupan gizi yang mereka butuhkan dengan menyusu kepada ibunya. Tidak kenal siang dan malam, anak-anak kucing – yang kelihatan bandel itu – rutin minta disusui. Terlebih, karena kelenjar susu Ibu Kucing banyaknya lebih dari satu, beberapa anak kucing menyusu kepada Ibu Kucing sekaligus. Para anak-anak kucing berebut untuk mendapatkan susu dari Ibu Kucing; tetapi Ibu Kucing tetap berusaha adil kepada mereka dengan memprioritaskan anak kucing yang sedikit meminum susu terlebih dahulu; karena jika asupan susu yang diberikan kurang, anak kucing tersebut bisa mati. Ibu Kucing juga rajin ‘memandikan’ dengan menjilati anak-anaknya untuk mensterilkan, menghangatkan, dan menstimulasi mereka.

Karena ruang BEM cukup jauh dari spot yang banyak memiliki makanan yang bisa kucing makan (contoh: tempat sampah, sisa makanan), Ibu Kucing biasanya mencari makan di tempat yang cukup jauh dari tempat ia tinggal–sampai harus turun melewati tangga ke bawah. Bahkan, fase istirahat Ibu Kucing sangat minim jika dibandingkan dua fase lainnya; saat sedang istirahat, Ibu Kucing harus selalu siap siaga jika sewaktu-waktu anak-anaknya minta disusui.

Jika sedang lowong; saya sering menyempatkan diri untuk nongkrong bersama Ibu Kucing, biasanya sehabis rapat atau mengerjakan tugas. Saya sering tertegun memandangi Ibu Kucing yang matanya terbiasa mendayu–tanda bahwa ia lelah. Karena ia juga acapkali terlihat lapar, saya juga memberinya sisa-sisa dari makanan yang dapat ia makan.

***

Rasanya, segala usaha yang sekarang saya lakukan masih jauh sekali–jika dibandingkan dengan usaha Ibu Kucing.

Sebab, Ibu Kucing memiliki strong why yang powerful: anak-anak kucing tercintanya.

***

Tidak peduli kucing maupun manusia; seorang ibu akan memerhatikan anak-anaknya–dengan perhatian terbaik yang ia dapat berikan–mengabaikan segala threat yang sedang dihadapinya.

Tidak peduli kucing maupun manusia; seorang ibu akan memberikan upaya terbaiknya dengan mengusahakan segala hal yang ia dapat lakukan; mengorbankan apa pun yang ia punyai demi keberlangsungan hidup anak-anaknya.

Karena itu, kita, para laki-laki; tidak boleh kalah, bukan? 😀

Advertisements

4 thoughts on “Pelajaran dari (Seekor) Ibu (Kucing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s