Ramadan: Bukan Hanya Sekedar Keceriaan

Bagi saya, semua selalu berbeda ketika Ramadan datang. Sejak kecil hingga mahasiswa seperti sekarang, saya selalu bahagia karena kedatangannya. Liburan sekolah, makanan spesial, buka puasa bersama, berbagai pakaian baru, tarawih bersama teman, sampai acara televisi yang menghibur adalah sedikit dari berbagai hal yang telah berkali-kali mengisi dan membahagiakan hidup saya kala Ramadan.

Karena itu, bagi saya, Ramadan sangat spesial–dan menceriakan.

Sama seperti saya, mungkin banyak orang yang memaknai Ramadan sebagai bulan yang penuh dengan hiburan dan keceriaan. Hal ini mungkin tidak salah; apalagi ini disertai dengan kondisi lingkungan yang mendukung untuk membantu memaknainya demikian.

Namun, apa sejatinya yang menjadikan Ramadan begitu spesial?

Allah telah menganugerahkan Ramadan dengan berbagai keutamaan: diampuninya dosa-dosa, pahala dilipatgandakan, ditutupnya pintu neraka; bahkan, kitab suci umat Muslim, Al-Qur’an, diturunkan pada bulan Ramadan.

Dahulu, saat Ramadan tahun 2 Hijriah, Rasulullah dan kaum Muslim yang hanya sekitar tiga ratusan banyaknya, harus berperang menghadapi pasukan Quraisy yang tiga kali lipat lebih banyak. Meski pada akhirnya menang, sebelumnya Rasulullah dan pasukan Muslim harus berjuang keras hingga Allah menganugerahkan kemenangan.

Lalu, pada Ramadan tahun 92 Hijriah, Tariq bin Ziyad memimpin sekitar 12.000 pasukan tentara Islam yang berhadapan dengan sekitar 90.000 tentara Spanyol. Saat itu, Tariq bin Ziyad menyuruh pasukannya untuk membakar kapal-kapalnya sendiri agar pasukannya tidak dapat melarikan diri–yang berhasil mengobarkan semangat pasukannya. Alhasil, Tariq bin Ziyad dan pasukannya dapat memenangkan perang, dan membebaskan Spanyol Selatan yang menjadi awal penaklukkan Andalusia.

Jum’at, 8 Ramadan tahun 1364 Hijriah, atau 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Setelah berbagai usaha yang mengorbankan harta, tenaga, dan bahkan darah, Indonesia berhasil merdeka.

Kisah-kisah itu hanya sedikit dari banyak sekali hal yang membuat bulan Ramadan menjadi sangat spesial.

Sehingga, selain keceriaan; sebagaimana dicontohkan oleh para manusia pilihan Allah dulu: sejatinya bulan Ramadan adalah bulan perjuangan; dengan berbagai kemudahan serta sarana yang Allah berikan. Perjuangan untuk menjadi hamba Allah yang terbaik. Ramadan adalah sarana temporer yang diberikan Allah untuk menempa diri lebih dan lebih lagi, dengan bantuan berbagai keutamaan yang dimilikinya.

Oleh karena itu, keceriaan kita – dalam menyambut dan menjalani Ramadan – haruslah diselaraskan, dengan banyaknya ibadah-ibadah kita, dengan optimalnya kegiatan-kegiatan produktif kita, dengan maksimalnya bakti-bakti kita; dengan perjuangan terbaik yang dapat kita lakukan–serta kesemuanya dilandasi keikhlasan karena Allah dan keinginan mendapatkan ridha-Nya.

Semangat di sisa Ramadan ini! Semoga kita senantiasa dikuatkan dan diberikan kemudahan. 🙂

***

Denny Yusuf
Fasilkom UI 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s