Aruku youna hayasa de

89289.jpg

At a walking pace.

Kaca jendela menyambut titik-titik air yang mulai mengendap dan perlahan berjatuhan. Mereka memulai kompetisi untuk saling dahulu-mendahului siapa yang lebih cepat jatuh ke tanah. Tak ada menang-kalah, kekecewaan, tawa dan tangis, bahkan kebahagiaan di perlombaan yang semu itu. Segalanya terlewati seperti berlalunya angin: hilang tanpa meninggalkan jejak dan pergi tanpa ada yang benar-benar dihasilkan.

Sekali lagi ia berusaha bangkit menghadapi kekecewaan meraih angan yang tega membuatnya jatuh. Mungkin ia lebih buruk daripada titik-titik air yang menang dalam perlombaan itu–yang sampai lebih dahulu ke tanah–mereka tidak hanya memperoleh titel kosong, tapi juga kemenangan yang senantiasa dihantui kehampaan belaka.

***

Seperti hari-hari lain, hari ini tidak ada yang spesial, kecuali sekarang adalah hari di mana ia menunaikan rutinitasnya; sekali setiap seminggu tepat pada hari ini. Setelah terbangun dari mimpi panjang yang rasanya tiada memiliki akhir, ia mulai memakai kaus kaki dan sepatu talinya yang selalu tak perlu diikat lagi. Tanda-tanda akan turun derasnya hujan sama sekali tak mengurungkan niatnya untuk pergi mencari arti.

Dengan berjalan dan sesekali berlari, ia mengitari jalan yang terbentang panjang sampai ke ujung cakrawala. Meski tak ada yang tahu mengapa ia melakukan itu. Sebagian beranggapan ia hanya sekedar mengisi waktu luang, sebagian lain beranggapan ia ingin keluar dari zona nyaman. Berbagai skenario, spekulasi, dan asumsi yang ditujukan kepada dirinya sudah cukup untuk dijadikan beberapa episode film.

Tapi, dirinya memang begitu; tetap saja tidak peduli mengapa hal itu terjadi–mungkin ia tidak peduli akan segala yang terjadi di dunia ini. Ia terus berjalan hingga singgah di sebuah taman. Keberadaan bunga mawar, air mancur, bangku taman, ayunan, serta patung-patung eksentrik di taman itu, semuanya tetap saja tidak cukup kasih untuk membuat dirinya terpesona.

Memang selama ini, belum pernah ada yang sepenuhnya indah baginya.

Akhirnya hujan mulai turun ke bumi. Terpaksa tangannya menadah ke atas, berusaha menghalang setiap detik tetesan air yang menyasar tanah. Rentetan serangan hujan dengan konstelasi abstraknya terus mengenainya di segala sisi, tanpa henti dan tanpa ampun; membuat dirinya tak lagi berharap untuk dapat pulang dengan pakaian kering.

Walau membuat kuyup, mengakibatkan pengelihatan kabur, dan menyulitkan langkah karena becek, ia tetap meneruskan perjalanan itu. Sepertinya ia telah paham: hujan adalah karunia sang pencipta yang tak terukur keberkahannya.

Hei, apalagi yang kau ragukan dari ketetapan Tuhan?

Ia mulai berlari menyusuri derasnya hujan, sambil berusaha meminimalisir konsentrasi air yang terus meningkat pada kain pakaiannya.

Ia tahu masih tetap akan merasa sendiri, walau sadar akan segala keterbatasannya untuk tetap bertahan di jalan ini. Selama dan sejauh ia hidup; belum ada yang sampai hati rela menggenggam tangannya, mengajaknya berjalan seiring dan bukan menggiring.

Tak diduga hujan itu hanya datang sesaat, pergi meninggalkan jejak yang sangat tak sebanding dengan waktu keberadaannya menghujani tanah. Langit sudah terlihat tidak menghitam-berisik-menangis lagi. Rute yang biasa ia lewati sudah selesai; dan ia bergegas pulang; sambil tersenyum. Mood-nya sudah membaik lantaran kemunculan pelangi yang tiba-tiba hadir–terlebih karena telah lama hilang tanpa kabar.

***

Sambil mengadah ke atas ia berbisik kepada langit; dan ia telah sadar; perjalanan yang tiga setengah tahun lamanya itu, ternyata telah banyak menyarikan hikmah untuknya.

Advertisements

One thought on “Aruku youna hayasa de

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s