Just by existing

Shigaso

“You make a great significance to my life, just by existing.”

– Takeshi Aiza

Saya sedang menonton sebuah anime musik berjudul Shigatsu wa Kimi no Uso (atau Your Lie in April dalam bahasa Inggris). Selain memiliki visual karakter dan environment yang menarik serta soundtrack yang keren, anime drama ini memiliki plot yang cukup menyentuh.

Shigatsu wa Kimi no Uso bercerita tentang kehidupan seorang pianis muda berbakat bernama Arima Kousei. Diceritakan bahwa Kousei telah vakum bermain piano sejak dua tahun lalu karena suatu alasan. Padahal Kousei seringkali memenangi lomba piano tingkat nasional sebelumnya. Kousei kembali bermain piano lagi setelah bertemu Kaori Miyazono–seorang violinist yang membuat hidupnya tak lagi monokrom.

Seiring berlanjutnya kisah, kita dikenalkan dua orang pianis bernama Emi Igawa dan Takeshi Aiza yang keduanya bermain piano karena melihat permainan Kousei. Mereka (secara sepihak) menjadikan Kousei sebagai rival. Emi dan Takeshi juga berkembang sampai menjadi pianis level nasional; permainan piano Kousei sangat berperan hingga mereka berdua dapat meraih itu. Walaupun Kousei sendiri tidak pernah mengetahui nama mereka hingga dipertemukan tiga tahun kemudian dalam perlombaan piano.

Emi - Takeshi
Takeshi dan Emi

Anime ini membuat saya tersadar akan suatu kenyataan (yang mungkin unik). Di dunia ini, ada orang-orang yang hanya dengan keberadaannya, bisa memengaruhi orang lain. Mereka saling berpengaruh satu sama lain, simply hanya dengan menjalani hidupnya masing-masing, tidak saling berbicara, tidak berinteraksi, tidak memberikan nasehat secara langsung, tidak memberikan uang dan materi, bahkan (ada juga yang) tidak kenal satu sama lain. Dengan keberadaannya saja, dengan hanya ‘ada’ atau ‘hidup’-nya, orang-orang semacam ini telah berhasil membuat orang lain lebih memaknai kehidupannya.

Banyak orang yang telah memengaruhi orang lain dengan segala keterbatasan interaksi yang mereka lakukan, baik ke arah positif maupun negatif. Bentuk ‘hubungan’ antara kedua orang yang memengaruhi dapat berbentuk seperti rivalitas atau idola. Motivasi yang ditimbulkan juga beragam; ingin diakui, mendapatkan prestasi yang sama, ingin sama-sama bermanfaat.

Biasanya, orang-orang yang memengaruhi ini adalah orang-orang besar yang telah melakukan pencapaian hebat dan diakui oleh masyarakat luas atas karya yang ia berikan dalam hidupnya. Sebagai contoh, tokoh besar Jerman, Adolf Hitler mengidolakan Richard Wagner, seorang komposer asal Jerman yang banyak memengaruhi Hitler bagaimana ia memandang dunia. Hingga, Hitler dapat seberpengaruh itu sekarang.

Tapi, pada kenyataannya, orang-orang ini tidak harus orang-orang yang besar dan diakui dunia atas pengaruh yang mereka berikan. Saya sendiri pun, memiliki orang-orang seperti itu. Mungkin bagi dunia, mereka belum diakui dan belum (atau sudah tidak sempat) melakukan hal-hal besar seperti Hitler atau Wagner. Namun, bagi saya, mereka sangat signifikan. Seperti bagaimana Aiza menganggap Kousei sebagai rivalnya secara sepihak; yang menyebabkan Aiza terus menerus mengimprovisasi dirinya hingga dapat selevel Kousei. Meski rasanya seperti ada tembok yang menghalangi untuk berinteraksi; saya bersyukur, keberadaan orang-orang seperti ini dapat memberikan signifikansi hingga saya dapat menjalani hidup dengan lebih bermakna. Just by existing.

Advertisements

One thought on “Just by existing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s