This too, shall pass…

Tulisan ini adalah karya Kristi Poerwandari. Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25.----

Entah siapa yang mengirim pertama kali, saya pernah memperoleh pesan indah dalam grup Whatsapp (WA): ”This too, shall pass”. Dengan sebuah cerita atau perumpamaan, mengenai seorang tukang cincin yang diminta untuk mengukir sebuah kalimat bijak yang paling bijak. Ia bingung, tetapi akhirnya memilih frase ”This too, shall pass”, ”Yang ini pun, akan berlalu”.

Bila ditelusuri, pepatah ini lahir dari kaum sufi Persia abad pertengahan, yang kemudian diadopsi dalam pidato kenegaraan Abraham Lincoln pada tahun 1859. ”This too, shall pass” sering dinasihatkan oleh orang yang menyayangi kita saat kita mengeluh karena berada dalam masalah berat. Tetapi, sesungguhnya, ”This too, shall pass”, ”yang ini pun, akan berlalu”, mengandung pesan yang jauh lebih dalam, dan akan sangat membantu menguatkan kesejahteraan psikologis kita, bila dapat diingat kapan pun, saat sedih ataupun saat senang.

Manusia memiliki kapasitas sangat unik, dalam hal dapat secara mental menjelajahi hidup tanpa terbatasi oleh waktu. Kita dapat bertransendensi melampaui ”sekarang” dan ”hari ini” dengan membayangkan masa lalu dan masa depan. Mengenang masa lalu seolah masih hidup di masa sekarang, membayangkan yang belum terjadi seolah itu sudah dan sedang terjadi. Dan, itu dapat kita manfaatkan untuk memaksimalkan kesehatan mental kita dan mendewasakan diri.

Ketika di bawah

Ada saat di mana kita merasa ”sangat di bawah”: orang yang disayangi meninggal, pasangan berselingkuh dan membohongi, anak yang sangat dibanggakan ternyata kecanduan narkoba, harta habis karena ditipu orang, sakit parah, dan lain sebagainya.

Bruehlman-Senecal dan Ayduk (2015) menulis ”This Too Shall Pass: Temporal Distance and the Regulation of Emotional Distress”. Dalam artikel tersebut, mereka melaporkan rangkaian penelitian eksperimental yang menyimpulkan mengenai bagaimana orang mampu mengambil jarak untuk memahami kesementaraan waktu, untuk dapat meregulasi (mengatur, mengelola) emosi yang sedang terganggu atau kacau akibat peristiwa yang sangat menyedihkan atau menyakitkan.

Temuan mereka menjelaskan bahwa manusia dapat dan memang efektif menggunakan perspektif jarak temporal dalam menyeimbangkan kembali kekacauan emosinya, dengan memfokuskan perhatian bukan pada kejadian buruk yang sedang dialami. Yang dilakukan adalah menyadarkan diri dan mengarahkan perhatian pada aspek ”sementara” atau ”tidak permanen”, dari kejadian atau perasaan buruk yang dihayati.

Penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dan melihat peristiwa buruk sebagai ”tidak permanen” atau ”sementara” membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia. Baik untuk jangka pendek (mengurangi stres atau afek negatif), maupun jangka panjang (membantu lebih stabilnya emosi positif dalam jangka panjang, memfasilitasi kemampuan mengendalikan diri).

Ketika di atas

Sekarang memang menghadapi masalah berat, tetapi besok kondisi akan berubah. Saat ini memang sedang merasa sangat sedih dan terpuruk, tetapi nanti akan mengalami perasaan bahagia lagi.

Bukan saja kemampuan menjaga jarak ini penting saat kita dalam kondisi buruk, tetapi sebenarnya juga sangat penting saat kita dalam kondisi baik atau ”di atas”. Saya mencari-cari artikel internasional mengenai ini, tetapi belum menemukan yang komprehensif. Beruntung kita memiliki acuan dari budaya kita sendiri, misalnya dalam konsep ”eling”.

Ketika sedang di atas, dalam kebahagiaan luar biasa, memiliki uang banyak, dirubung orang karena berkuasa, menjadi orang terkenal, didengar suaranya, dianggap sebagai sosok penting, dan dapat mengambil keputusan mengenai nasib orang lain, menjadi lebih mudah bagi kita untuk lupa. Kita lupa bahwa kondisi ”di atas” sangat berbahagia, atau dalam puncak keberhasilan, adalah juga, sementara saja.

Lupanya manusia, sering bukan karena sengaja. Penjelasannya dapat dicari dalam konsep-konsep dasar psikologi: pembiasaan, persepsi, motivasi, emosi, dan konsep-konsep terkait lainnya, yang akan beroperasi dalam diri dengan tidak bisa dilepaskan dari peran sosial yang ada.

Isi persepsi, motivasi, dan emosi dapat dikonstruksi. Dalam berhubungan dengan pemimpin, lingkungan atau orang dekat mungkin saja mengatur perilaku dan cerita mereka dengan motivasi berbeda-beda. Misalnya, agar pemimpin tidak kecewa, tidak marah, terus merasa senang, juga untuk menciptakan kesan baik tentang diri sendiri, untuk mengendalikan pemimpin, dan sebagainya. Cerita atau informasi diatur sedemikian rupa untuk membangun persepsi atau penyimpulan tertentu, evaluasi tertentu, emosi tertentu, motivasi tertentu, hingga perilaku tertentu.

Jadi, ”berada di atas” itu memang membuat kita mudah untuk lupa.

Berada ”di atas” bukan terkait uang atau kekuasaan saja. Kita mungkin juga menghayati kebahagiaan luar biasa atas kehidupan yang terasa sungguh sempurna. Barangkali karena semua berjalan lancar, anak berhasil dan jadi juara sangat hebat, atau sedang memiliki hubungan cinta yang sangat indah atau menggairahkan. Kita menyangka itu akan abadi. Lupa, bahwa segala yang terjadi itu mungkin sementara saja.

Konsep ”eling” atau ”ingat”, dalam pemahaman saya pribadi, punya kelebihan dibandingkan konsep ”jarak temporal” karena ”eling” bicara mengenai konteks waktu, kesementaraan, tetapi juga mengenai esensi situasi atau posisi.

”This too, shall pass” yang ini pun akan berlalu. Keterpurukan itu sementara saja, demikian pula kekuasaan, kehebatan, dan kondisi mabuk kebahagiaan. Konsep ”eling” mengajarkan pemahaman mengenai kesementaraan waktu, dan ketidakabadian posisi dalam arti esensi dari eksistensi. Maka, tenang dan rendah hatilah manusia yang menghayatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s