Ikigai dan Pemaknaan akan Iman

Ramadan udah selesai. Liburan juga udah selesai. Semua udah kembali ke rutinitas masing-masing. Semoga saya nggak terlalu telat nulis perenungan ini.

Buat saya, Ramadan kali ini cukup berbeda. Setidaknya karena dua hal: pertama, karena waktu saya yang jauuuh lebih lowong dibandingkan tahun lalu; kedua, karena di 10 hari terakhir saya berkesempatan itikaf di daerah pedesaan kota Pandeglang. Dan ternyata itikaf–yang rasanya seperti mengasingkan diri ini, sangat berkesan!

Saya akhirnya memutuskan itikaf setelah dipaksa oleh orang-orang soleh: Asad, Rian, dan Hanif; dengan segala ketawa-ketiwi dan ceng-cengannya. Haha. Rasanya benar-benar berbeda menghabiskan sisa 10 hari terakhir Ramadan di dalam masjid yang jauh dari hingar-bingar perkotaan. Ditambah, kita nggak boleh keluar masjid sama sekali supaya itikaf bisa lebih sempurna. Saya sangat berharap, semoga tahun depan saya bisa memiliki kesempatan seperti ini lagi.

Alhamdulillah, berada di sini, saya banyak mendapatkan pelajaran berharga. Seperti, karena cukup banyak kegiatan kajian, saya banyak mendapatkan pengetahuan tentang kegiatan dakwah di daerah pedesaan, juga tentang fiqih ibadah (shalat, zakat, itikaf, dll.), bocah-bocah yang bandel, orang-orang yang (benar-benar) baik, sampai metode gerak berbagai macam gerakan Islam yang ada di Indonesia. Dari sini pula, rasanya saya makin tertohok mengetahui ibadah sehari-hari saya yang masih banyak kurangnya, secara kualitas maupun kuantitas.

Pemaknaan akan Iman

Selain berusaha memperbanyak ibadah mahdhah seperti menghafal, shalat sunnah, dan tilawah, kami juga banyak ngobrol-ngobrol nggak jelas, dan sebenarnya, hal inilah yang membuat saya tergelitik menulis ini, haha. Tatkala kami sedang ngobrol ngador-ngidul soal passion dan karir, salah seorang dari kami melempar pertanyaan berikut:

“Kenapa ya, banyak orang saleh yang ngejar passion-nya nggak lebih niat dibanding orang nggak saleh? Apa yang salah?”

Hmm, benar juga ya, pikir saya. Apa yang salah? Padahal iman sejatinya erat kaitannya dengan pengaruh dan kebermanfaatan. Rasulullah pun dalam salah satu hadits yang sangat tidak asing bagi kita, mengatakan bahwa manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Lebih jauh, Qur’an, dalam awalan surat Al-Mukminun, mengatakan:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.”

– Q.S. Al-Mukminun: 1

Ini adalah janji Allah kepada orang-orang (yang benar-benar) beriman. Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa orang-orang (yang benar-benar) beriman telah mendapatkan kemenangan, kebahagiaan, serta memperoleh keberuntungan, tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Tentu dari sini, kemenangan, kebahagiaan, serta keberuntungan orang-orang beriman tidak hanya terbatas di akhirat, kepada dirinya sendiri; tapi mereka memberikan manfaat bagi dunia ini dan seisinya.

Jika dibenturkan dengan kenyataan saat ini, tentu kemenangan orang-orang yang beriman masih jauh dari ideal. Identitas Islam sebagai agama dan Muslim sebagai kelompok di dunia ini, masih jauh dari citra yang baik. Hanya sedikit tokoh Muslim yang diakui dunia. Islam seringkali dilabel dan dicap teroris. Sampai, hal sehari-hari yang terjangkau oleh kita: sebagian dari kita masih tidak seimbang antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, atau malah kurang dalam kedua jenis ibadah tersebut; ihsan dan itqan–yang seharusnya dimaknai sebagai prinsip yang dipegang teguh umat Islam dalam bekerja, sekarang bagaikan sunnah yang terlupakan.

Tetiba, dari perenungan akan obrolan ini, saya teringat akan konsep ikigai.

Ikigai

Saya mengenal konsep–yang berasal dari Jepang–ini dari buku Generasi Langgas karangan Yoris Sebastian. Singkatnya, ikigai adalah a reason for being: alasan untuk hidup; sesuatu yang bisa bikin kita semangat bangun di pagi hari. Diagram ini dapat menggambarkan ikigai dengan lebih detail:


Ikigai lebih dari sekadar passion, lebih dari sekadar mission. Ikigai adalah irisan antara berbagai dimensi yang penting bagi pemaknaan hidup seorang manusia; dalam bertahan hidup, mencintai hidup, menjalani hidup, serta memberikan manfaat kepada dunia ini. Irisan antara money, love, skill, dan needs sejatinya dapat memberikan reason for being yang luar biasa. Seseorang yang menemukan ikigai-nya, dapat memberikan manfaat kepada dunia ini sebagai versi terbaik dari dirinya–hingga potensi kebaikan yang diberikan tentunya bisa makin berdampak.

Tim Cook, CEO Apple saat ini, dalam commencement speech-nya di MIT, mengatakan bahwa ia baru menemukan ‘ikigai’-nya saat ia bekerja di Apple, setelah sebelumnya bekerja di beberapa perusahaan teknologi seperti IBM dan Compaq. Tidak semua orang seperti Steve Jobs yang beruntung menemukan ikigai-nya di awal kehidupannya, menemukan ikigai kadang butuh waktu dan proses yang cukup panjang seperti Cook.

Ikigai dan Pemaknaan akan Iman

Sebagai seorang Muslim, kita wajib meyakini bahwa Islam, beserta seluruh ajarannya, adalah kebenaran. Islam adalah agama yang mengatur segala pilar kehidupan; dan tentu, sekali lagi, Islam tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah. Karena itu, kesalehan tanpa positive impact adalah pemaknaan akan iman yang parsial.

Kristalisasi identitas (secara singkat) bagi seorang Muslim adalah keimanan dan ketakwaan dirinya; yang sejatinya juga menjadi tolok ukur derajat seorang Muslim di mata Allah (juga seharusnya di mata manusia). Korelasi antara indikator kebermanfaatan dan parameter sebaik-baik manusia, yang telah dipaparkan Rasulullah sejatinya tidak dapat terpisahkan dari orientasi dan tujuan hidup seorang Muslim.

Ikigai, menurut saya pribadi, adalah konsep yang sangat keren. Apalagi jika ditambah satu variabel lagi: keimanan. Dilengkapi dengan ketakwaan. Sehingga reason for being kita tidak hanya berfokus pada dunia-sentris dan pribadi-sentris saja, namun berorientasi utama kepada esensi dan alasan sejati kehidupan seorang manusia untuk beribadah.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

– Q.S. Adz-Dzariyat : 56

Semoga kita semua segera menemukan ikigai (yang didasari-dilengkapi oleh pondasi keimanan) kita masing-masing! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s